Senin, 26 Juli 2010

Makalah His tidak Adekuat

KEPERAWATAN MATERNITAS
“ASUHAN KEPERAWATAN”
HIS TIDAK ADEKUAT


Disusun Oleh :
Kelompok 14

1. Angga Fitriantika ( P27820108004 )
2. Triana Nur Q ( P27820108036 )
3. Claudia Christyan P.P. ( P27820108044 )
4. Heni Agustina ( P27820108058 )



POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN SOETOMO
SURABAYA
2009/2010



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persalinan adalah suatu proses fisiologik yang memungkinkan serangkaian perubahan besar pada ibu untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Ini di definisikan sebagai pembukaan serviks progresif, dilatasi atau keduanya akibat kontraksi rahim teratur yang terjadi sekurang-kurangnya setiap 5 menit dan berlangsung sampai 60 detik.

Proses persalinan mengandung tiga komponen utama: Power (kontraksi teratur otot polos rahim (HIS), Passage (jalan lahir) dan Passenger (janin). Agar proses persalinan berjalan lancar, ketiga komponen tersebut harus dalam kondisi baik, power harus teratur dan efektif sehingga bisa membuka jalan lahir serta bayi tidak terlalu besar. Dengan begitu, partisipasi aktif ibu dalam proses melahirkan tak kalah penting. Dorongan kuat dari ibu akan membantu bayi keluar melalui jalan lahir dengan baik. Proses mendorong bayi keluar biasanya sangat singkat 10 menit. Tapi adakalanya perlu waktu antara setengah sampai satu jam. Bahkan jika terjadi komplikasi mencapai 3 jam.

His adalah kontraksi uterus yang dapat diraba dan menimbulkan pembukaan servik. Kontraksi rahim dimulai dari kedua face maker yang letaknya dekat kornu uteri, bergerak ke tengah secara digital kemudian ke bawah dekat servik sehingga kontraksi menjadi sirkuler.

Penyebab nyeri terjadi karena tekanan pada serat-serat saraf oleh otot-otot pada servik waktu dilatasi dan oleh serat-serat otot rahim waktu kontraksi. His yang menimbulkan pembukaan servik dalam kecepatan tertentu disebut his efektif. Sifat his biasa, yaitu kontraksi fundus lebih kuat dan lebih dulu daripada bagian lain dan peranan fundus tetap menonjol.

1.2 Rumusan Masalah

Dari Latar Belakang diatas dapat dirumuskan beberapa masalah yaitu :

1.2.1 Apakah Definisi his tidak adekuat ?

1.2.2 Apakah Klasifikasi his tidak adekuat ?

1.2.3 Apakah Etiologi dari his tidak adekuat ?

1.2.4 Bagaimanakah Manifestasi klinis dari his tidak adekuat ?

1.2.5 Apakah Penyulit dari his tidak adekuat ?

1.2.6 Bagaimanakah Pemeriksaan penunjang dari his tidak adekuat ?

1.2.7 Bagaimanakah Penatalaksanaan dari his tidak adekuat ?

1.2.8 Apakah Komplikasi dari his tidak adekuat ?

1.2.9 Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Teori dari his tidak adekuat ?

1.3 Tujuan

Dari Rumusan Masalah diatas dapat diambil beberapa tujuan yaitu :

1.3.1 Dapat mengetahui Definisi his tidak adekuat.

1.3.2 Dapat mengetahui Klasifikasi his tidak adekuat.

1.3.3 Dapat mengetahui Etiologi dari his tidak adekuat.

1.3.4 Dapat mengetahui Manifestasi klinis dari his tidak adekuat.

1.3.5 Dapat mengetahui Penyulit dari his tidak adekuat.

1.3.6 Dapat mengetahui Pemeriksaan penunjang dari his tidak adekuat.

1.3.7 Dapat mengetahui Penatalaksanaan dari his tidak adekuat.

1.3.8 Dapat mengetahui Komplikasi dari his tidak adekuat.

1.3.9 Dapat mengetahui Asuhan Keperawatan Teori dari his tidak adekuat.

BAB II

KONSEP PEMBAHASAN

2.1 Definisi

His tidak adekuat (Inersia Uteri) merupakan kelainan his yang kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar. tetapi kekuatannya lemah dan frekuensi jarang serta pendek, sehingga menghambat kelancaran persalinan.

Ciri-ciri His Efektif :

* Adanya fundal dominant kontraksi uterus pada fundus uteri.

* Kontraksi berlangsung secara sinkron dan harmonis.

* Adanya intensitas kontraksi yang maksimal.

* Adanya fase relaksasi yang maksimal antara his.

* Iramanya teratur dan frekuensinya kian sering.

* Lama His berkisar antara 40-60 detik

2.2 Klasifikasi

A. Inersia Uteri

1. Inersia Uteri Hipotonik

Kelainan his dengan kekuatan yang lemah / tidak adekuat melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar dan frekuensinya jarang, sehingga menghasilkan tekanan ≥ 15 mmHg.

Sering dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat hidramnion atau kehamilan kembar (makrosomia), grandmultipara (primipara), serta pada penderita dengan keadaan emosi kurang baik.

Inersia Uteri Hipotonik dibagi menjadi 2, yaitu :

a. Inersia Uteri Primer

¨ Terjadi pada awal fase laten

¨ Frekuensi jarang, kekuatan lemah, sebentar dan relaksasinya sempurna.

¨ Sejak awal telah terjadi his tidak adekuat sehingga sering sulit untuk memastikan apakah penderita telah memasuki keadaan in partu / belum.

b. Inersia Uteri Sekunder

¨ Terjadi pada fase aktif atau kala I dan kala II

¨ Permulaan his baik, lalu keadaan selanjutnya ada gangguan / kelainan.

¨ Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada pembukaan, bagian terendah terdapat kaput dan mungkin ketuban telah pecah

His yang lemah dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin, sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas atau ke dokter spesialis.

2. Inersia Uteri Hipertonik

Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai melebihi normal) namun tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian atas, tengah dan bawah uterus, sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar. Disebut juga sebagai incoordinate uterine action. Contoh misalnya “tetania uteri” karena obat uterotonika yang berlebihan

Perbedaan antara inersia hipotonik dan hipertonik

Hipotonik

Hypertonik

Kejadian

4 % dari persalinan

1% dari persalinan

Tingkat Persalinan

Fase aktif

Fase laten

Nyeri

Tidak nyeri (-)

Berlebihan

Gawat Janin (Foetal distress)

Lambat

Cepat

Reaksi terhadap Oksitosin

Baik

Tidak baik

Pengaruh sedativ

Sedikit

Besar

B. Tetania Uteri

His yang terlalu kuat dan terlalu sering, sehingga tidak terdapat kesempatan reaksi otot rahim.

Akibat dari tetania uteri dapat terjadi :

· Partus Presipitatus

Persalinan yang berlangsung dalam waktu tiga jam.

Akibat mungkin fatal :

- Terjadi persalinan tidak pada tempatnya

- Terjadi trauma janin, karena tidak terdapat persiapan dalam persalinan

- Trauma jalan lahir ibu yang luas dan menimbulkan perdarahan, inversio uteri

- Tetania uteri menyebabkan asfiksia intra uterin sampai kematian janin dalam rahim

· Asifiksia intra uteri – kematian janin

C. Inkoordinasi otot rahim

Keadaan Inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan sulitnya kekuatan otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan atau pengeluaran janin dari dalam rahim.

2.3 Etiologi

v Kelainan Mengejan

§ Gangguan pertumbuhan uterus

(uterus bicornis unicollis, hipoplasia uteri)

§ Uterus terlalu teregang

§ Kehamilan multipara,

§ Otot dinding perut lemah

§ Mioma Uteri

§ Ibu anemia, penyakit kronis

§ Faktor psikologis (tidak mau/takutmengejan), dan emosional.

Kelainan his dapat disebabkan, oleh :

1) Inersia Uteri Hipotonik

Panggul sempit, kelainan letak kepala, penggunaan analgesik terlalu cepat, hidroamnion, ibu merasa takut, salah memimpin persalinan.

2) Inersia Uteri Hipertonik

Pemberian sedative berlebihan (Oksitosin)

v Inkoordinasi otot rahim

Penyebab inkoordinasi kontraksi otot rahim adalah :

§ Faktor usia penderita relatif tua, pimpinan persalinan

§ Karena induksi persalinan dengan oksitosin

§ Rasa takut dan cemas

2.4 Manifestasi Klinis

A. Inersia Uteri Hipotonik

· Kontraksi lemah → tekanan ≥ 15 mmHg (N: 50-60 mmHg)

· His kurang sering dan pada puncak kontraksi dinding rahim masih dapat ditekan ke dalam.

· Asfiksia anak jarang terjadi dan reaksi terhadap pitocin baik sekali.

B. Inersia Uteri Hipertonik

· Kontraksi tidak terkoordinasi

Misal : kontraksi segmen tengah lebih kuat dari segmen atas.

· Pasien biasanya sangat kesakitan

· Tanda-tanda gawat janin (foetal disstres) cepat terjadi

2.5 Penyulit

Kelainan his (insersia uteri) dapat menimbulkan kesulitan, yaitu :

1. Kematian atau jejas kelahiran

2. Bertambahnya resiko infeksi

3. Kelelahan dan dehidrasi dengan tanda-tanda : nadi dan suhu meningkat,

pernapasan cepat, turgor berkurang, dan meteorismus.

Infus harus diberikan jika partus > 24 jam → mencegah timbul gejala di atas.

2.6 Pemeriksaan Penunjang

Kelainan his dapat didukung oleh pemeriksaan :

CTG dan USG

2.7 Penatalaksanaan

¨ Observasi keadaan ibu dan janin

¨ Suportive: atasi kelelahan, dehidrasi & asidosis

¨ Terapi infeksi

sedatif untuk mengurangi nyeri & ketegangan mental/fisik

(Pethidine 50 mg atau morphin 10 mg)

¨ Jangan beri makan/minum karena mungkin persalinan dengan operasi

¨ Stimulasi kontraksi uterus (oksitosin)

5 satuan oksitosin dimasukkan dalam larutan glukosa 5% diberikan secara iv 12 tts/mnt dan perlahan-lahan dapat dinaikkan ± 50 tetes.

Oksitosin jangan diberikan pada primipara dan penderita yang pernah sectio caesar (miomektomi) karena memudahkan terjadi ruptur uteri.

¨ Apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam panggul, penderita disuruh berjalan-jalan, selanjutnya peersalinan akan lancer

¨ Ketuban boleh dipecahkan untuk merangsang his sehingga persalinan lancar tetapi setelah ini persalinan tidak boleh berlangsung lama

¨ Periksa keadaan patologis yang mungkin penyebab persalinan tidak maju

¨ Penyelesaian persalinan secara operatif

2.8 Komplikasi

Ibu

Janin

Infeksi

Kematian dalam kandungan

Kelelahan

Gawat janin

Dehidrasi

Infeksi janin intrauterin

Asidosis

Pengaruh His terhadap ibu dan janin

* Terhadap desakan, darah meningkat.

* Terhadap DJJ menurun, karena waktu otot rahim kontraksi aliran darah ke plasenta kembali normal dan DJJ kembali normal.

* Terhadap janin terjadinya penurunan kepada ke PAP.

* Terhadap korpus uteri, dindingnya menjadi tebal.

* Pada isthmus menjadi meregang dan menipis.

* Pada canalis servikalis, effisment dan pembukaan

2.9 Asuhan Keperawatan Teori

Pengkajian :

¨ Pengkajian Resiko

Kaki faktor yang menyebabkan kekuatan mengejan tidak adekuat, seperti :

Komplikasi kehamilan, persalinan sebelumnya, cemas, takut

¨ Pengkajian Fisik

· Kemajuan persalinan

a) Dilatasi dan effisement servik

b) Status membran amnion

c) DJJ

d) Presentasi dan penurunan janin

· Sifat his : frekuensi, lama, dan kekuatannya (tanda vital maternal)

Kekuatan his dinilai dengan menekan dinding rahim pada puncak kontraksi.

Kekuatan his tidak boleh dinilai dari perasaan nyeri penderita.

His itu diketahui kurang kuat jika :

- terlalu lemah

- terlalu pendek

- terlalu jarang

· Besarnya caput succedaneum

¨ Pemeriksaan Diagnostik : CTG dan USG

Diagnosa Keperawatan

¨ Nyeri b.d distosia, prosedur obstetri

¨ Kerusakan Integritas kulit b.d prosedur operasi

¨ Kelebihan volume cairan b.d infus intravena dengan oxytocin

¨ Defisit volume cairan b.d status puasa

¨ Resiko tinggi cidera janin b.d gangguan sirkulasi pada janin

¨ Risti cidera maternal b.d intervenís penanganan distosia

¨ Risti infeksi b.d ruptur membran amnion, prosedur operasi

¨ Keletihan b.d persalinan yang lama

¨ Defisit pengetahuan b.d prosedur, posisi, tekhnik relaksasi

¨ Ansietas b.d kemajuan persalinan yang lambat

¨ Takut b.d ancaman nyata resiko terhadap diri sendiri dan janin

¨ Risti perubahan peran ortu b/d kelahiran section yang tidak direncanakan

¨ Koping individu tidak efektif b.d rasa takut, nyeri, kekecewaan, keletihan, system pendukung yang kurang

¨ Harga diri rendah b.d ketidakmampuan untuk bersalin dan melahirkan seperti yang diharapkan

Intervensi

A. Inersia Uteri Hipotonik

§ Pengkajian tanda vital maternal, tingkat kelelahan, hidrasi, dan DJJ

§ Dokter mengkaji keadekuatan pengukuran pelvis ibu dan maturasi janin. Jika dalam batas aman dan ketuban (+), dapat melakukan amniotomi (pemecahan ketuban lebih dulu) untuk merangsang proses persalinan dan atau kemudian jika diperlukan diberi oxytocin melalui pompa infuse untuk memperbaiki kualitas kontrasi uterus.

§ Sebelum pemberian oxytocin drip, kandung kemih dan rectum harus dikosongkan.

§ Pada panggul sempit absolut → Sectio Caesar

§ Cara pemberian oxytocin :

5 satuan oxytocin dilarutkan dalam 500 cc glucose 5%, diberikan sebagi infus dengan kecepatan 20-30 tts/mnt, terkadang ditambah pethidin dan phenergan masing-masing 50 mg.

Yang harus diperhatikan (observasi) dengan seksama :

· Jika his menjadi terlalu kuat, bunyi jantung jelek → infus dihentikan

· Jika his menjadi cukup baik frekuensi maupun sifatnya → infus tetap diberikan (dipertahankan) dengan kecepatan yang sesuai kebutuhan.

· Jika terapi oxytocin berhasil → pengaruhnya nyata pada his dalm waktu singkat, maka tidak ada gunanya memberi oxytocin terlalu lama, biasanya 4 jam sudah cukup lama dan jika belum ada hasilnya setelah istirahat beberapa waktu boleh dicoba sekali lagi. Jika dalam waktu pemberian infus kedua kalinya belum berhasil → Sectio Caesar.

§ Masalah Potensial : dehidrasi, keton urin, kelelahan maternal,dan disstres janin. Oleh karena itu, diharuskan pada perawat untuk mempertahankan kelanjutan pencatatan tentang asupan dan haluaran, memeriksa keton urin setiap 2 jam, mengkaji tingkat keletihan pasien dan DJJ, serta memberikan analgesik jika diperlukan.

B. Inersia Uteri Hipertonik

§ Tirah baring dan obat sedativ (morphin 10 mg atau pethidin 50 mg)

Tujuan: menimbulkan ataupun meningkatkan relaksasi dan istirahat (menurunkan rasa sakit)

§ Oxytocin tidak diberikan pada pasien yang mengalami hipertonik uterus, karena hanya akan meningkatkan pola persalinan yang abnormal. Mengingat bahaya infeksi antrapartum, terkadang dicoba diberi oxytocin tetapi dalam larutan yang lebih lemah

§ Jika pola hipertonik berlanjut dan berkembang menjadi fase laten yang lebih lama → pemeriksaan terhadap adanya kemungkinan disporposi sefalopelvik dan malposisi janin

§ Jika his tidak menjadi baik dalam waktu tertentu → Sectio Caesar

§ Masalah potensial : dehidrasi, keton urin, kelelahan maternal, dan disstres janin. Oleh karena itu, diharuskan pada perawat untuk mempertahankan kelanjutan pencatatan tentang asupan dan haluaran, memeriksa keton urin setiap 2 jam, mengkaji tingkat keletihan pasien dan DJJ, serta memberikan analgesik jika diperlukan.

Hasil akhir yang diharapkan

§ Ibu melahirkan bayi sehat tanpa disstres janin

§ Ibu melahirkan dengan komplikasi minimal atau tanpa komplikasi (infeksi, cidera, dan perdarahan)

§ Nyeri berkurang

§ Ibu memahami penyebab dan penanganan hambatan dalam persalinan

§ Ibu menggunakan pola doping positif untuk mempertahankan konsep diri yang positif

§ Ansietas berkurang atau minimal

Evaluasi

§ Klien dan janin tetap dalam kondisi stabil

§ Klien kooperatif terhadap rencana pengobatan dan perawatan dalam persalinan

§ Klien dapat mempertahankan kenyamanan

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

His tidak adekuat (Inersia Uteri) merupakan kelainan his yang kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar. tetapi kekuatannya lemah dan frekuensinya jarang serta pendek, sehingga menghambat kelancaran persalinan. Kekuatan his tidak boleh dinilai dari perasaan nyeri penderita.

Inersia Uteri dibagi menjadi 2, yaitu :

A. Inersia Uteri Hipotonik

Inersia Uteri Hipotonik dibagi menjadi 2, yaitu :

1) Inersia Uteri Primer

2) Inersia Uteri Sekunder

His yang lemah dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin, sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas atau ke dokter spesialis.

B. Inersia Uteri Hipertonik

Perbedaan antara inersia hipotonik dan hipertonik

Hipotonik

Hypertonik

Kejadian

4 % dari persalinan

1% dari persalinan

Tingkat Persalinan

Fase aktif

Fase laten

Nyeri

Tidak nyeri (-)

Berlebihan

Gawat Janin (Foetal distress)

Lambat

Cepat

Reaksi terhadap Oksitosin

Baik

Tidak baik

Pengaruh sedativ

Sedikit

Besar

DAFTAR PUSTAKA

Hamilton,Persis Mary.1995. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas.Jakarta:EGC.

Manuaba Ida Bagus Gde.1998.Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, Jakarta: EGC.

Winkjosastro,hanifa.2007. Ilmu Kebidanan.Jakarta.

Yayasan bina pustaka, Sarwono Prawirohardjo.2007.Ilmu Kebidanan. Jakarta:EGC.

Yayasan Bina Pustaka, Sarwono Prawirohardjo.2000.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar